Menu
Review

Review: Sony Ericsson W150i Yendo

Rabu, 01 Juni 2011 • 12:21

Demi menyaingi vendor lain dan vendor lokal yang telah menyematkan teknologi layar sentuh pada perangkat ponsel kelas menengah kebawah. Sony Ericsson telah menyiapkan lawan tangguh dalam seri W150i alias Yendo. Sebagai bukti, inilah ponsel pertama buatan Sony Ericsson yang mengadosi media layar sentuh pada perangkat ponsel non sistem operasi miliknya.Â
Disain
Pernah melihat Sony Ericsson Xperia X10 Mini ? Ya, secara sepintas tak perlu malu kalau terkecoh  dengan pandangan pertama terhadap ponsel ini. Apabila tidak ada logo W di depan dan tidak menyadari bentuknya yang lebih panjang niscaya pengguna akan tertipu dan menyatakan bahwa ini adalah bentuk Xperia X10 Mini.
Mempunyai tampang yang hampir identik, Sony Ericsson W150i adalah penerus seri Walkman yang dulu pernah melegenda. Trend ponsel mungil muncul dalam wujud Sony Ericsson W150i aka Yendo. Bodi bawaan ringkas dan enteng, tak heran bobotnya hanya 81 gram.Â
Warna hitam jadi pilihan penutup tubuh depan si Yendo sementara warna putih menyelubungi tubuh belakang ponsel. Material bahan terbuat dari plastik yang cukup kokoh dan solid pada bagian depan namun tak cukup kuat di sisi belakang.Â
Satu kesulitan akan dihadapi saat membuka cover baterai karena di sekujur tubuh ponsel tidak tersedia celah pembuka. Pengguna harus mendorong badan ponsel yang pastinya akan menyentuh permukaan layar sentuh. Alangkah lebih baik bila ditempatkan sedikit celah supaya kerawanan layar sentuh tetap terjaga baik.
Layaknya ponsel layar sentuh kebanyakan. Sony Ericsson Yendo tampil minimalis. Di bagian bawah terbentuk bidang menonjol yang berfungsi  hanya sebagai tombol back. Sedang di posisi atas, ditempatkan tombol on/off yang sekaligus bisa dipakai mengunci ponsel. Di sebelahnya persis, ditaruh lubang jack 3,5 mm sekaligus port yang didesain khusus untuk headset HiFi Sony Ericsson MH810.
Sayang, Sony Ericsson Yendo kurang mencerminkan ponsel penganut genre Walkman. Tidak tersedia tombol musik khusus di sekeliling ponsel. Begitu pula untuk mengganti  memori eksternal, pengguna harus siap direpotkan dengan selalu membuka casing penutup karena port microSD terpasang di dalam ponsel.
Layar & Menu
Kemajuan jelas dihadirkan pada Sony Ericsson Yendo. Sebelumnya Sony Ericsson selalu mengalokasikan  jatah layar sentuh untuk ponsel ponsel bersistem operasi miliknya yang berharga mahal. Namun, kini Sony Ericsson Yendo mengawali kiprah awal ponsel layar sentuh non OS Sony Ericsson.
Dengan pencangkokan layar berjenis capacitive, secara otomatis alat bantu hanya berupa sentuhan jari tanpa stylus atau benda tumpul lain. Dan layarnya sanggup menerjemahkan usapan demi usapan dengan baik.
Meski kurang luas, besaran layar 2,6 inchi mampu menghadirkan visualisasi yang oke. Terlebih ditopang kedalaman warna 240 x 320 piksel, warna warni Sony Ericsson Yendo tampil lebih terang.
Lagi lagi user interface milik generasi Xperia diturunkan ke Yendo. Untuk membuka homescreen awal, usapkan jari pada panah virtual ke arah atas dan pengguna akan mendapatkan 4 shortcut yang menyendiri di setiap pojok layar.
Awalnya akan ditemukan menu walkman, pesan,kontak dan telepon. Namun, apabila ingin merubah item tersebut, cukup tekan dan tahan aplikasi tertentu kemudian gulirkan ke posisi sudut dimaksud. Otomatis, aplikasi akan berubah sesuai keinginan pengguna.
 

Struktur menu dalam Sony Ericsson Yendo dipecah menjadi 3 layar berbeda yang biasa disebut panel aplikasi.  Gulirkan jari ke kanan dan kiri untuk berpindah antar panel aplikasi.

Multimedia
Untuk arena mengabadikan gambar, Sony Ericsson Yendo hanya berani mempersembahkan kamera sekelas 2 megapiksel. Namun, pemangkasan fitur fitur andalan Sony Ericsson seperti smile detection, face detection, auto fokus bahkan zoom mengurangi daya pikat Sony Ericsson Yendo.
Walaupun sebatas 2 megapiksel, foto bidikan tampil tajam saat objek berada di posisi outdoor. Sedikit penurunan kualitas dimunculkan saat kamera dibawa ke dalam ruangan. Apalagi, untuk menangkap gambar kurang cahaya, media kamera kewalahan menampilkan kualitas asli gambar karena minus flash.
Dari sisi pemutar video, mutunya kurang mumpuni dalam mengeksekusi objek bergerak. Media rekamnya tak mampu menyesuaikan dengan pencahayaan di sekeliling objek. Alhasil, kadang gambar tertangkap jelas namun seringkali fokus menjadi blur dan objek dipenuhi bias warna.  Â
Namun kelemahan di satu sektor mampu ditutupi di sektor lain. Embel embel Walkman bisa ditransformasikan dalam keunggulan di bidang audio. Terbukti pada setiap lagu yang bermain pemutar Walkman sanggup membuat hati pendengar merasa nyaman. Terjadi perpaduan pas antara suara penyanyi dengan bunyi bunyian alat musik.
Tapi interface pada menu Walkman tergolong standar. Latar belakang dan fungsi fungsi tambahan sangat terbatas. Meski masih ada pengelompokan artis, track, playlist tapi pengguna tak bisa merubah skin default. Anehnya, fitur stereo  widening dan equalizer yang biasanya menyatu di menu Walkman kini dipindahkan ke sub menu Musik di menu Pengaturan.
Terakhir, sarana radio tak ketinggalan. Seperti biasa penyematan handsfree harus dilakukan karena berfungsi sebagai antena.
 
Internet & Konektivitas
Di segmen ini, ponsel telah ditanamkan akses sekelas GPRS dan EDGE. Untuk pemakai yang tidak membutuhkan kecepatan super, Yendo mampu memenuhi harapan tersebut. Walau tak terlalu ngebut, Yendo dapat diajak berselancar dunia maya.
Sony Ericsson Yendo tidak dikaruniai konsep cubit dan ketuk dua kali untuk memperbesar halaman. Kesabaran akan diuji dalam menaik turunkan halaman web dimaksud.
Sebagai alat bantu, Sony Ericsson Yendo memasang 4 ikon di posisi bawah. Terdiri dari ikon back, pencarian alamat, menu favorit serta kirim link. Mau terkoneksi dengan perangkat berbeda, ada Bluetooth dan kabel micro USB yang bisa dijadikan media penghubung.
 
Fitur Lain
Sebenarnya tak banyak tambahan fitur baru dalam diri Yendo. Menu menu yang identik dengan ponsel Sony Ericsson seperti PlayNow dan TrackID telah tersedia. Media pertemanan yaitu Facebook dan Twitter jadi ajang bersosialisasi.
 
 
 
Selain itu ada Orkut dan dua games default, Night Club Fever dan BB Revolution. Sementara fitur lain standar layaknya calendar, alarm, catatan, perekam, stopwatch dan kalkulator.
Kesimpulan
Pada akhirnya Sony Ericsson membuat pengecualian dengan membikin ponsel layar sentuh meski basis ponsel bukan sistem operasi. Meski harus saling adu sikut di area sejutaan, paling tidak saat ini Sony Ericsson berani menantang jagoan jagoan pabrikan lain. Terdapat kelemahan di beberapa sektor namun kekuatan audio jadi faktor plus mengingat basis Walkman yang diusungnya.(Rahadian)
PLUS :  Layar sentuh, Harga sejutaan, Walkman mantap
MINUS : Ponsel non OS,  video kurang mumpuni
Spesifikasi :
{ponsel}
<iframe id="widget" width="100%" height="700" scrolling="no" marginheight="0" marginwidth="0" frameborder="0" scrolling="no" src="widget/singleponsel.php?id=2670"></iframe>
{/ponsel}
Error